Inilah 5 Alasan Tak Logis Orang Bali Pindah Agama Yang Sering Terjadi

 d


Disamping kuat dalam memegang tradisi/adat, masyarakat Bali yang mayoritas pemeluk Hindu juga dikenal sebagai masyarakat yang religius dan taat dalam menjalankan agama. Bagaimana tidak, oleh orang asing Bali sampai dijuluki “The Island of thousand temple” (pulau seribu pura) saking banyaknya Pura (tempat pemujaan Tuhan dan segala manifestasinya) yang bisa ditemukan di pulau ini.

Namun, bukan berarti tidak ada orang Bali yang pindah agama. Justru, setidaknya menurut pengamatan saya, orang Bali yang semula pemeluk Hindu lah yang lebih banyak pindah ke agama lain dibandingkan sebaliknya.

Memang, idealnya, sekali memeluk suatu agama selamanya takkan berubah. Sayangnya, kita tidak hidup di dunia yang serba ideal. Ada banyak kondisi yang membuat seseorang termasuk orang Bali akhirnya memutuskan untuk pindah agama.

Lalu, apa alasan orang Bali pindah agama?

Inilah 5 alasan orang Bali—yang awalnya beragama Hindu—memutuskan untuk pindah agama, setidaknya yang terungkap ke publik.

1. Terlanjur Jatuh Cinta

Sebagian besar pemeluk Hindu di Bali akhirnya pindah agama karena alasan jatuh cinta pada orang yang kebetulan beragama non-Hindu. Untuk bisa berumahtangga dengan orang tercinta mereka rela pindah agama, sebab memang UU di Negara kita tidak melegalkan pernikahan beda-agama.

“Habisnya sudah terlanjur cinta, mau gimana lagi” ungkap Wayan Netri seorang penjaga counter HP di Rimo yang dinikahi oleh seorang teknisi pria yang kebetulan beragama non-Hindu.

Wayan Netri hanya salah satu saja. Pada kenyataannya, ketika seorang perempuan pemeluk Hindu di Bali diperistri oleh pria non-Hindu hampir bisa dipastikan pindah agama tanpa hambatan yang berarti. Sebab pemeluk Hindu di Bali pada umumnya menganut prinsip “anak perempuan memang sudah seharusnya ikut suami,” termasuk agamanya.

Sayangnya, prinsip yang sama tidak dianut oleh para orang tua non-Hindu. Bagi mereka, baik anak perempuan maupun laki-laki wajib berumah tangga dengan sesamanya. Dan ketika terpaksa tidak dengan sesama, maka wajib bagi si anak untuk mengajak calon pasangannya pindah agama. Jika tidak, maka restu tidak diberikan thus rencana berumahtanggapun terpaksa urung dilakukan. Itu sebabnya mengapa nasib pria Bali pun tak jauh berbeda dengan perempuannya ketika berumah tangga beda-agama; kebanyakan akhirnya terpaksa ikut agama sang istri demi cinta (istilahnya “paid bangkung“), meskipun bapak-ibunya mungkin “nangis darah” karena tak setuju. Delapan dari sepuluh pria Bali yang memperistri perempuan non Bali yang kebetulan saya kenal pindah agama.

Satu dari 2 pria yang tetap beragama Hindu setelah memperistri perempuan non-Hindu adalah kakak kandung saya yang nomor dua. Dia menikahi gadis asal Malang, Jawa Timur, yang bersedia melaksanakan ritual ‘Sudhiwadani‘ dan menjadi penganut Hindu, mengikuti kakak saya. Sekarang mereka hidup rukun dan berbahagia dengan 2 orang putera yang sehat-sehat dan cerdas-cerdas.

Apa yang dialami kakak saya tergolong jarang. Seperti telah saya paparkan di atas, sangat kecil kemungkinan perempuan non-Hindu mau pindah agama secara sukarela; yang lebih banyak terjadi pria Hindunya lah yang mengalah lalu pindah ke agama lain karena alasan cinta pada istri. Karena penasaran, maka suatu ketika saya tanya pada kakak, mengapa tak pindah agama, apakah karena dia tidak mencintai istrinya.

“Sampai menikah dan punya 2 anak ya jelas cintalah” jawabnya.

Tapi, kebanyakan pria Bali yang pindah agama termasuk teman kuliah saya dahulu yang sekarang menjadi pegawai Bawasda dan sudah Haji serta Umroh dua kali beralasan karena cinta pada sang istri.

“Masalah utamanya, mereka [pria Bali] pindah agama bukan semata-mata karena mereka mencintai istrinya, melainkan juga karena cinta sang calon istri tak sebesar cinta mereka” jelas kakak saya.

Ketika calon pasangannya keberatan pindah agama, non-Hindu biasanya akan menggunakan alasan cinta sebagai “jerat.” Mereka bilang, “Kalau kamu sungguh-sungguh mencintai aku, harusnya kamu mau dong masuk agamaku.” Menurut kakak, upaya yang sama juga dilakukan oleh kakak-ipar. Namun kakak saya rupanya tak mau dijerat begitu saja, dia malah balik bertanya “Nah, kamu sendiri cinta nggak sama aku? Kalau ia mestinya kamu juga bersedia dong masuk agamaku.” Karena kakak ipar sungguh-sungguh mencintai kakak saya, maka diapun bersedia pindah agama.

“Ya, mungkin, kebetulan daya-jual kakakmu ini lebih tinggi ketimbang kakak iparmu” tutur kakak saya yang seorang guru itu dengan hidung kembang kempis setengah bangga.

Catatan:

Semeton Bali yang saat ini sedang membina hubungan serius dan berencana berumahtangga dengan orang non-Hindu, namun tak ingin pindah agama, saya pikir tak ada salahnya jika mencoba cara yang dilakukan oleh kakak saya. Tetapi BUKAN untuk mengajaknya masuk Hindu. Sebab, seperti sudah sering diungkapkan, Hindu adalah media bagi manusia untuk hidup. Ibarat telaga; jika airnya jernih, tenang dan indah, kodok dan hewan lainnya akan datang dengan sendirinya. Sebaliknya, dijerat dan dipaksa masukpun kodok dan hewan lainnya suatu saat nanti akan mati bila telaganya memang tak layak sebagai media untuk hidup. Hindu tidak menganjurkan umatnya untuk mencari pengikut, terlebih dengan cara-cara konversi. Tidak ada orang masuk Hindu kecuali karena keinginannya sendiri.

Namun cara yang dilakukan oleh kakak saya, yakni terlebih dahulu menggunakan alasan cinta untuk mengajaknya masuk Hindu, nampaknya bagus untuk dilakukan agar calon pasangan anda takkan pernah berpikir untuk menggunakan trick itu. Sekaligus untuk menguji apakah kadar cinta calon pasangan terhadap anda cukup tinggi. Jika sungguh-sungguh dan tulus mencinta anda, mestinya dia bersedia dong masuk agama Hindu dan menjadi Orang Bali, iya dong? Terlebih-lebih jika anda pria.

Jangan sampai seumur hidup dihantui oleh kekhawatiran tak sanggup memenuhi tuntutan “standar-iman” agama calon pasangan anda. Kemungkinan ini sangat tinggi bila ternyata calon pasangan lebih mencintai agamanya ketimbang anda. Sebab sudah jelas dan terang-benderang, mereka yang menjadikan “konversi agama” sebagai syarat berumahtangga sudah pasti lebih mencintai agamanya ketimbang anda. Ini hanya masukan, gunakan bila dirasa baik dan abaikan bila sebaliknya.)

Tetapi maaf, bagaimanapun juga saya termasuk orang yang memandang “terlanjur jatuh cinta” sebagai alasan PALING ABSURD untuk pindah agama. Menurut saya, mesti ada faktor lain yang menyebabkan seorang manusia Bali (pemeluk Hindu) pindah agama. Alasan kedua berikut ini misalnya.

2. Capek Miskin

Terlanjur jatuh cinta dan berumahtangga bukan satu-satunya alasan yang membuat Orang Bali (pemeluk Hindu) pindah agama. Ada juga yang pindah agama karena sudah capek jadi orang miskin. Mereka ingin mengubah nasib dengan cara pindah ke agama yang dikehui secara eksplisit menawarkan cara mudah untuk keluar dari lubang kemiskinan.

Cara-cara untuk keluar dari kemiskinan itu antara lain berupa pemberian santunan dana, beras, susu, biaya sekolah bahkan hingga tingkat perguruan tinggi jika mau mengambil jurusan agama yang ditawarkan dan siap untuk menjadi penyebar. Inilah alasan mengapa beberapa keluarga di kampung halaman saya, di ujung Utara pulau Bali, beramai-ramai “boyongan” dari Pura ke tempat ibadah baru nun jauh di Kota Singaraja sana.

Faktanya? Keluarga-keluarga ini memang menjadi yang pertama mampu menyulap rumah-gubuknya menjadi bangunan permanen berlantai keramik hanya dalam waktu beberapa bulan, setelah pindah agama. Keluarga-keluarga ini pula yang pertama mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi dan membeli sepeda motor, di era 80-an, selain dokter dan pejabat. Sementara warga sekitar, termasuk keluarga saya, masih tinggal di rumah-gubuk biasanya.

Melihat contoh nyata itu, bahkan satu ‘dadia’ lainnya bersepakat untuk melebur ‘sanggah kemulan’ dan ‘pemerajan’-nya demi untuk pindah ke agama tersebut, demi sebuah harapan bisa keluar dari lubang kemiskinan. Sayangnya, bukan keluar dari lubang kemiskinan mereka justru masuk ke lubang kuburan. Entah mengapa, anggota keluarga itu meninggal satu-per-satu. Yang jelas satu-satunya anggota keluarga yang tersisa memutuskan untuk kembali ke Hindu dan ‘ngaku-agem’ (berjanji secara niskala) untuk membangun sanggah pemerajan yang dilebur itu kembali. Kasus ini sempat menghebohkan dan menjadi cerita seru masyarakat setempat di era 80an.

Semenjak saat itu rumah ibadah baru yang di bangun di ujung Utara desa kami itu sampai sekarang menjadi bangunan tua tak berfungsi. Entah bagaimana nasibnya. Sedangkan sebagian yang selamat dan berkembang menjadi Orang Kaya Baru nampaknya lebih memilih beribadah ke kota Singaraja yang jaraknya sekitar 25 kilometer.

Mungkin karena kasus tak lazim ini, fenomena konversi agama di kampung saya tidak berlanjut. Namun bukan berarti didaerah lain konversi juga mandeg. Menurut kawan-kawan di Peradah dan KMHDI, fenomena konversi agama karena alasan “capek jadi orang miskin” semakin massif di daerah lain di Bali. Sebut saja di daerah Jembrana, bahkan konon sampai satu kecamatan tanpa terkecuali sudah terkonversi. Bedanya sekaligus anehnya, jika dibandingkan dengan kasus konversi di kampung saya, yang di daerah Jembrana katanya tidak melebur Sanggah Kemulan dan Pemerajan mereka, melainkan dengan melakukan modifikasi-modifikasi tertentu.

Tentu tak ada yang menyalahkan mereka yang ingin pindah agama karena alasan ekonomi (capek miskin) maupun alasan-alasan lainnya. Urusan memeluk agama adalah hak azasi seseorang yang dilindungi oleh Undang-Undang.

Namun demikian, sama seperti alasan terlanjur jatuh cinta, secara pribadi saya memandang “capek miskin” juga masih alasan yang absurd untuk pindah agama. Sebab, nyatanya, masih ada ribuan keluarga di desa kami tak pernah memandang pindah agama sebagai solusi untuk mengatasi kemiskinan.

Saya pribadi dengan 3 orang kakak saat itu jauh lebih miskin jika dibandingkan mereka yang mengaku pindah agama karena capek jadi orang miskin. Namun nyatanya bisa bertahan hidup hanya dibesarkan oleh ibu seorang diri sejak ditinggalkan ayah untuk selamanya di tahun 1987 tanpa harus pindah agama. Bahkan kami bersukur bisa menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi dan sekarang hidup berkecukupan meskipun belum jadi orang kaya. Satu-satunya solusi untuk mengatasi kemiskinan bagi saya pribadi adalah kerja keras.

Sehingga, meskipun ada berpuluah-puluh kecamatan pindah agama karena alasan kemiskinan, meskipun saya setuju bahwa lembaga umat macam PHDI mestinya lebih perhatian terhadap umat di bawah terutama yang masih di bawah garis kemiskinan, tetap saja saya tak sependapat kalau kemiskinan menjadi alasan untuk pindah agama. Saya yakin pasti ada faktor lain disamping kemiskinan. Misalnya yang ketiga berikut ini.

3. Jadi Orang Bali itu Repot dan Berat Di Ongkos

Alasan yang cukup banyak dikemukakan, katanya,“repot/ribet” jadi orang Bali penganut Hindu. Bahkan ada yang berpendapat “berat di ongkos.” Sedikit-sedikit upacara, sedikit-sedikit ritual adat. Disamping sangat merepotkan semua itu konon berbiaya tinggi dan membebani hidup mereka.

Benarkah demikian?

Hindu memang menempatkan ‘bhakti’ sebagai nilai utama. Namun pemuka agama dan adat di Bali lah yang entah disengaja atau tidak, banyak mempromosikan kesalah kaprahan kolektif, yakni menerjemahkan ‘bhakti’ sebagai upacara-upakara semata; setiap solusi persoalan—sekalilagi entah mengapa—selalu diarahkan pada upacara dan upakara.

Menjadi makin merepotkan dan membebani ketika kesalah kaprahan ini kemudian terlanjur dijadikan ajang adu-gengsi dan wahana untuk menunjukkan strata sosial di kalangan orang Bali sendiri. Dan menjadi benang kusut yang tak bisa diurai ujung-pangkalnya ketika ajang adu gengsi dan pamer strata sosial ini kemudian ditangkap sebagai peluang komersialisasi dan industrialisasi oleh semeton Bali lain yang kebetulan punya ketertarikan khusus dalam hal menghimpun harta!

Padahal, seperti sudah POPBALI pernah tuliskan sebelumnya, ‘bhakti’ sesungguhnya dapat dimplementasikan dalam 2 macam upaya, yakni:

(1) Para Bhakti (wujud Bhakti yang utama), yakni Bhakti yang ditunjukkan dengan cara berpikir-berucap-dan-berbuat baik (Tri Kaya Parisudha) secara disiplin dan konsisten, kapanpun dan dimanapun. Selain itu, para bhakti lebih mengutamakan upaya-upaya konkret dalam berbuat kebaikan bagi sesama ketimbang upacara-upacara atau yadnya-yadnya berbea tinggi itu. Misalnya: ikut meringankan beban hidup orang lain (matriil atau immatriil), membantu orang yang sedang menghadapi kesulitan, mengajari orang yang butuh pengetahuan dan keterampilan, menyadarkan mereka yang sedang terjebak dalam pola hidup yang salah, mengobati orang sakit, dan sejenisnya.

(2) Apara Bhakti (wujud Bhakti yang tidak utama), yakni Bhakti yang ditunjukkan dengan cara menggelar upacara dan upakara (Yadnya). Sekalilagi ini bukan cara yang utama, melainkan hanya bagi mereka yang merasa belum mampu memahami dan mengimplementasikan konsep para bhakti di atas. Pun demikian, beryadnya dalam bentuk upacara dan upakara ini juga masih fleksibel; bisa disesuaikan dengan kemampuan. Bagi mereka yang kurang mampu bisa menggelar upacara/upakara yang berukuran kecil (nista). Sedangkan mereka yang cukup mampu secara finansial bisa menggelar upacara/upakara berukuran sedang (madia). Dan mereka yang hidupnya berlebih bisa menggelar upacara/upakara berukuran besar (utama), hitung-hitung sekaligus untuk menghidupkan ekonomi semeton lain.

Penting untuk dipahami, ketiga ukuran upacara (nista, madia dan utama) di atas nilainya SAMA! Takaran kualitas Yadnya sendiri adalah keinginan yang tulus. Semua upacara-upakara itu tak ada nilainya bila dilaksanakan dengan keterpaksaan.

Bagian inilah yang menurut saya perlu dipikirkan dan mulai dipromosikan oleh para pemuka agama dan adat di Bali. Sehingga, ke depannya tidak ada lagi orang terutama di kalangan orang Balinya sendiri yang menganggap Hindu sebagai beban. Tidak ada lagi orang Bali yang menyesali ke-BALI-annya karena merasa repot dan berat di ongkos.

Jikapun upacara dan upakara adat serta keagamaan di Bali memang merepotkan dan membebani, tetap saja SAYA yang tahu persis seperti apa tuntutan keimanan agama lain kepada umatnya TIDAK SEPENDAPAT jika ada yang mengatakan menjadi orang Bali pemeluk Hindu lebih repot dan lebih berat di ongkos dibandingkan menjadi pemeluk agama lain. Saya tidak merasa perlu membeberkan apa-apa yang ada di agama lain. Yang jelas saya yakin mereka yang terlanjur pindah agama karena alasan repot dan berat diongkos akan segara menyadari bahwa “semua gunung nampak biru dan halus dari kejauhan,” begitu masuk ke dalamnya ternyata juga banyak jurang dan tebing terjalnya. Tak jauh berbeda dengan gunung-gunung lainnya.

Sehingga, sekalilagi, repot dan berat diongkos termasuk alasan tak logis bagi Orang Bali untuk pindah agama. Saya yakin ada faktor lain. Misalnya yang berikut ini.

4. Berprinsip “Semua Agama Sama”

“Alasan terlanjur jatuh cinta atau miskin atau repot, takkan membuat Orang Bali serta-merta memutuskan untuk pindah agama begitu saja,” papar seorang kawan di Peradah.

Menurutnya, ada semacam prinsip fundmental yang dianut oleh mereka-mereka yang pindah agama termasuk penganut Hindu di Bali yang seperti demikian, yakni menganggap “semua agama sama.” Prinsip inilah katanya yang membuat mereka merasa enteng-enteng saja untuk pindah agama.

Sayangnya, prinsip ‘semua-agama-sama’ ini hanya enak didengar namun mengandung ketidaklogisan fatal dalam prakteknya. Sebab jika benar ‘semua-agama-sama,’ mengapa lebih banyak orang Hindunya yang pindah ke Non-Hindu dan bukan sebaliknya? Mestinya seimbang. Yang paling logis mestinya tidak ada orang yang perlu pindah agama. Toh semua agama sama ‘kan? Jadi apa perlunya pindah agama? Tidak logis.

Catatan: Sekedar mengingatkan. Semeton Bali yang tak siap pindah agama sebaiknya jangan sekali-kali menggunakan alasan “semua agama sama” dalam upaya mengajak calon pasangan untuk masuk agama Hindu. Sebab, alasan ini bisa dijadikan alat “penyerang-balik” yang membuat anda tak bisa berkutik; terlanjur malu menelan ludah sendiri. Jika tertarik, silahkan baca tulisan ini sampai tuntas.

5. Agama Tidak Penting

Ada orang-orang tertentu, seperti kaum atheis dan spiritualis, yang menganggap beragama sebagai sesuatu yang samasekali tak penting. Sementara mereka yang atheis menganggap agama hanya lelucon belaka thus samasekali tak penting, kaum spiritualis memandang agama (terutama yang mengedepankan doktrin) tak penting karena hanya membajak hak personal seseorang untuk mengenali dirinya sendiri dan mengenal Tuhan dengan caranya sendiri.

Dari sekian banyak orang Bali yang pindah agama, apapun latarbelakang kasusnya, sangat mungkin sebagiannya menganggap agama sebagai sesuatu yang tak penting thus bagi mereka mau beragama Hindu atau agama lain samasekali bukan sesuatu yang perlu dipertimbangkan secara serius.

Mirip seperti anggapan ‘semua-agama-sama,’ alasan karena ‘agama-tidak-penting’ pun nampaknya tak cukup logis. Nyatanya mereka gagal memberikan pemahaman yang sama pada calon pasangannya thus merekalah yang pindah dan memasuki agama baru, bukan calon pasangannya.

Jika benar agama tidak penting, logisnya, mestinya mereka tak masuk agama apapun. Bahwa administrasi kependudukan mewajibkan seseorang Warga Negara mencantumkan agama pada KTP, iya, tapi kan tidak perlu ganti agama, cukup dengan agama yang lama saja. Toh yang lama maupun baru tak penting. Iya kan? Nyatanya kan pindah agama. Dalam pandangan saya, alasan ini tak ada bedanya dengan keempat alasan sebelumnya, sama-sama tak logis.

Secara keseluruhan, tak satupun diantara kelima alasan di atas sungguh-sungguh masuk-akal. Sebagian dari alasan itu cenderung mengada-ada atau sekedar dalih pembenar belaka. Sedangkan sebagiannya lagi, seperti alasan “semua agama sama” dan “agama tidak penting,” lebih nampak sebagai rasionalisasi agar tidak menimbulkan ketersinggungan belaka ketimbang alasan sesungguhnya.

Lalu, alasan apa yang paling logis?

Alasan Sesungguhnya: Agama Yang Baru Lebih Bagus!

Kalau dibalik jadinya “Agama Hindu kurang bagus.” Tentu di mata mereka yang telah pindah agama saja. Mungkin ini alasan yang paling menyakitkan bagi keluarga dan kerabat yang ditinggalkan serta orang Bali pada umumnya. Makanya jarang diungkapkan. Namun jika saja mereka mau jujur, justru inilah alasan sesungguhnya di balik kelima alasan-alasan semu yang lumrah diungkapkan ke publik seperti di atas; “agama yang baru dipeluk lebih bagus,” sekalilagi, menurut mereka yang sudah pindah agama.

Bagaimana dengan Orang Bali lainnya, yang tetap Hindu sampai sekarang?

Khususnya pada orang Bali, yang menganggap leluhur sebagai bagian penting dalam kehidupan relijius mereka, perpindahan agama bukanlah proses yang mudah baik bagi perempuan terlebih-lebih pria Bali.

Bayangkan, pada setiap moment-penting kehadiran Manusia Bali di Bumi ini sejak masih berupa jabang bayi dalam kandungan sang ibu, saat lahir, saat berusia 7 hari, saat berusia 3 bulan, 6 bulan, hingga dewasa manusia Bali didoakan dengan upacara dan upakara sesuai tuntunan Hindu dan tradisi Bali yang oleh orang tua dan para leluhurnya diyakini sebagai nilai-nilai yang adi luhung.

Bagi yang tak mampu seperti keluarga saya misalnya, orang tua harus menyisihkan sebagian pendapatannya untuk bisa melakukan upacara dan upakara itu. Mereka harus kerja ekstra-keras untuk bisa menggenapkan upakara-dan-upacara ‘Manusa Yadnya’ tanpa mengganggu kebutuhan lainnya, hanya untuk satu harapan, yakni: agar si anak kelak menjadi anak yang ‘suputra’ (menjadi penerus bagi keluarga besar sekaligus menjadi sumber kebahagiaan bagi dirinya sendiri, keluarga, kerabat, dan lingkungannya.)

Dengan mengingat dan mempertimbangkan itu semua, bagaimana mungkin seorang manusia Bali (baik laki-laki maupun perempuan) bisa berpindah agama begitu saja? Bagaimana mungkin mereka bisa melupakan momen-momen indah itu? Bagaimana mungkin mereka melupakan upaya keras yang dilakukan oleh orang tua agar bisa melakukan itu semua?

Tidak semudah itu. Kecuali belakangan (setelah memperoleh pemahaman baru dari agama lain), mereka mulai menganggap:
  • Bahwa semua momen indah itu adalah SUATU KESALAHAN yang tak seharusnya terjadi!
  • Bahwa upacara dan upakara yang dilakukan oleh orang tua dan leluhurnya adalah DOSA!
  • Bahwa upacara dan upakara untuk dirinya sejak kecil hingga dewasa akan mengantarkannya ke ALAM NERAKA!
  • Bahwa orang tua dan leluhurnya yang menjalankan upakara-upacara itu adalah CALON PENGHUNI DASAR NERAKA!
Inilah yang ada dalam benak mereka yang meninggalkan Hindu ke agama lain. Meskipun tak pernah mereka ungkapkan ke publik, keputusan akhirnya untuk pindah agama jelas menunjukkan hal ini. Jika tidak, mana mungkin mereka sampai berkeputusan demikian.

Pun demikian, sekali lgi, saya meyakini tak satupun Orang Bali pindah agama begitu saja tanpa didahului upaya apapun untuk tetap mempertahankan agama yang dianutnya sejak lahir. Masalahnya, yang sering terjadi adalah ada upaya keras dari pihak luar untuk meyakinkan agar orang Balinya bersedia pindah agama, yakni dengan mencekokkan pemahaman-pemahaman baru (indoktrinasi).

Upaya seperti demikian, tentu dilakukan dengan cara-cara yang sangat persuasif. Dalam kasus konversi agama melalui pernikahan misalnya, mungkin calon pasangan pura-pura memperkenalkan orang Balinya dengan seseorang terlebih dahulu:

“Aku sangat ingin memperkenalkan kamu dengan orang yang sangat aku hormati. Aku tak ingin beliau kaget setelah kita menikah nanti. Sekalian minta doa restu.”

Enak kan kedengarannya? Bagaimana mungkin orang Balinya—yang sudah terkenal santun dan baik hati—sampai menolak ajakan simpatik nan manis dari sang pujaan hati yang seperti demikian?

Tiba di rumah orang dimaksud, yang mungkin tanpa diketahui sesungguhnya seorang pemuka agama, maka si Orang Balinya dikenalkan sebagai calon suami/istri. Nah, di sinilah upaya konversi itu biasanya terjadi, dilakukan oleh orang yang sudah berpengalaman dan memiliki kemampuan persuasi yang mumpuni.

Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "Inilah 5 Alasan Tak Logis Orang Bali Pindah Agama Yang Sering Terjadi "

  1. Ulasan masuk akal. Pengalaman pribadi saya yg beristrikan non hindu sama persis spt yg di sampaikan di atas. Namun sejak dr pacaran sy berprinsip pacar sy hrs ikut agama sy. Klo tidak mau lebih baik putus saja. Itu prinsip dr awal sy pegang teguh. Akhirnya sampai skg sdh punya anak 4 istri sy masih tetap hindu..astungkara.

    ReplyDelete