Kisah Nyata : Pak Jaya Seorang Muslim Penjaga Pura Angkasa Amerta Dharma Jati Bertemu Dewa Wisnu Dan Dewa Siwa.


Pura Angkasa Amerta Dharma Jati adalah sebuah pura yang terletak dikawasan Lanud Atang Sanjaya Bogor. Awal pembangunan pura ini sempat disertai hal-hal yang penuh misteri. Pada awalnya rencana pembangunan pura ini Padmasananya akan menghadap ke barat sehingga nantinya umat sembahyang menghadap ke timur. Alat berat yang digunakan untuk meratakan tanah adalah alat berat yang sebelumnya di gunakan di Pura Gunung Salak. 

Namun ketika dalam tahap meratakan tanah, alat berat sempat tidak  berjalan. Setelah sekian lama di perbaiki akhirnya alat berat bisa berjalan, namun keesokannya terjadi kerusakan lagi. Teknisinya bingung karena sebelumnya tidak pernah terjadi kerusakan seperti ini bahkan di medan berat sekalipun seperti di gunung salak.

“Pak Wayan, ini belum diadakan upacara selamatan ya? Masa alat berat saya rusak melulu?”  begitu kata sopir dari alat berat itu kepada salah seorang anggota panitia pembangunan pura. “Sudah pak, jawab pak wayan”.

Melihat kejadian-kejadian itu beberapa anggota panitia mencoba meminta petunjuk dengan bersembahyang bersama-sama. Akhirnya rencana letak Padmasana dipindah menghadap ke utara, membelakangi gunung salak. Jadi nantinya umat sembahyang menghadap kearah gunung. Begitu rencana dilaksanakan tidak ada halangan sama sekali, alat berat pun bisa bekerja dengan lancar, dan sekarang pura itu telah berdiri.

Pak jaya adalah orang yang sehari-harinya menjaga pura tersebut sambil menjaga pencucian mobil disamping pura. Umurnya sekitar 70 tahun, jalannya pun sudah membungkuk. Ia mengabdi dengan tulus iklas, menyapu, membersihkan rumput, dan sebagainya. Padahal ia Cuma di gaji 150.000/bulan. 

Menurut ceritanya, buyutnya masih ada hubungan dengan suku Badui Dalam. Pak jaya adalah orang islam KTP, tidak salat dan jumatan. Namun ia menjalani keyakinannya dengan caranya sendiri, ia sering berdoa dalam pura.

Selama di pura ia mengalami beberapa hal yang aneh. Suatu malam saat ia berada di Utama Mandala, punggungnya dilempari sesuatu. Ia tidak tahu asal arahnya dimana. Ia lalu mengambil benda yang dilemparkan kepadanya itu. Ternyata sepotong kayu yang panjangnya sekitar 10 cm dan baunya wangi sekali. Lalu keesokan harinya ia menunjukan kepada Pak Mangku Made Warda dan oleh Pak Mangku ditaruh diatas Padmasana hingga sekarang.

Lain waktu juga di malam hari saat berada di Utama Mandala, ia melihat kepulan asap yang ia kira asap dupa yang tebal dari rerumputan. Ia heran padahal sejak tadi tidak ada yang sembahyang. Ia lalu mendekati asal asap itu dan melihat ternyata bukan dupa, melainkan Kujang Kecil yang tertancap di tanah. Dan sampai sekarang kujang itu ia simpan dirumahnya.

Suatu hari kakinya pernah sakit digigit ular berbisa disamping pura, kakinya membengkak besar sehingga oleh salah seorang umat di bawa kerumah sakit. Namun beberapa kali minum obat sakitnya tak kunjung sembuh, akhirnya oleh salah seorang pemangku yaitu Mangku Made Wardana mohon tirta di Mandala Utama dan diberikan kepada Pak Jaya. Keesokan harinya sakitnya berangsur-angsur sembuh namun belum bisa berjalan dengan baik. Dalam kondisi demikian dan sadar sepenuhnya, pada suatu malam tiba-tiba muncul 3 orang. Dia sangat kaget, bahkan saking kagetnya dia tidak bisa berkata-kata.

Ciri – ciri orangnya bagaimana Pak Jaya, tanya saya. “Yang satu berpakian gemerlapan  dan memakai mahkota, pokoknya seperti Raja dan Ia hanya tersenyum tidak ngomong” jawab pak jaya

Yang dua orang, bagaimana ciri-cirinya? Tanya saya lagi. “Tidak sempat memperhatikan pak, soalnya saya sangat kaget sekali, mau ngomong saja tidak bisa!” jawab dia.

Yang seperti Raja itu tangannya berapa pak jaya, Tanya saya. “Tangannya empat pak agus, kok bisa ya? Jawabnya keheranan.

Pak jaya, ingat gak tangannya masing-masing memegang apa? Tanya saya. “Ingat pak tapi gak tau namanya, jawabnya sambil memijit keningnya sendiri.”

Lalu saya mengambil kertas dan pensil kemudian menggambar bentuk Cakra dan menunjukan kepada pak Jaya, yang di pegang ada yang berbentuk seperti ini pak Jaya? Tanya saya berlanjut terus. “ada Pak Agus, ya……ada”. Jawabnya dengan tegas. “ini berputar terus di tangannya, makanya saya takut, jawabnya sambil telunjuk tangannya diangkat menirukan. Ini namanya cakra… pak jaya”, jawab saya.  

“Oh….. kok kayak gir motor ya pak?” Tanyanya lagi. 

Lalu saya menggambar terompet Sangkakala yang seperti rumah kerang dan menunjukannya pada pak jaya, “pak jaya lihat gak dia memegang yang seperti ini?” Tanya saya terus.

“Ya persis pak Agus. Namanya apa ini pak? Tanya pak Jaya? Ini namanya terompet Sangkakala, jawab saya. Berarti yang menemui Pak Jaya itu adalah Dewa Wisnu, ya mungkin saja dia memberikan kesembuhan kepada pak jaya karena selama ini Pak Jaya dengan tulus mengabdi di Pura ini meskipun hanya di gaji Rp.150.000/bulan. Jawab saya mengira-ngira.

“Ooooo…….. kalau begitu benar ya, soalnya besoknya kaki saya hampir sembuh total” jawabnya
Kemudian di lain waktu ia menceritakan lagi apa yang ia lihat, “ Pak Agus, saya kemarin malam setelah orang-orang selasai sembahyang bulan purnama, saya mau bersih-bersih didalam, saya kaget sekali sampai saya terduduk di tanah. Saya melihat orang Gede banget didepan Padmasana dan menyeramkan” ceritanya penuh semangat.


Orangnya seperti apa pak Jaya, Tanya saya. “Tubuhnya abu-abu, dilehernya ada ular dan rambutnya digelung dengan talinya seekor ular.  Wah…… pokoknya seram banget pak, saya takut mau lari tapi tidak bisa”. Jawabnya sambil memegang rokoknya. 

Tangannya ada berapa pak jaya?, Tanya saya “Tangannya Cuma dua pak tidak seperti dulu tangannya empat” jawabnya. Tangannya memegang apa pak Jaya?, Tanya saya “Senjata…. Tapi apa ya namanya saya tidak tahu pak” jawabnya sambil terlihat berpikir. 

Pak jaya tau gak Tri Sula?, Tanya saya “Yang seperti apa pak” jawab dia tidak tahu. Kemudian saya menggambar senjata Tri Sula di kertas dan menunjukan kepada pak jaya.

Tri Sula itu bentuknya seperti ini pak Jaya, sambil menunjukan gambar. “Ya…..persis seperti ini pak Agus, ujungnya ada tiga”, jawabnya dengan tegas. Itu namanya Dewa Siwa, pak jaya ngomong gak? Tanya saya
“Jangankan ngomong, membuka mulut saja saya tidak bisa”, jawabnya sambil tertawa. “Bersyukurlah pak jaya, Beliau mau menunjukan Wujudnya di depan pak jaya, karena tidak semua orang bisa melihat wujudnya secara langsung”. Jawab saya

Suatu hari pak jaya sedang gundah, bingung. Tetapi ketika saya Tanya ia sendiri tidak tahu bingungnya karena apa. Pokoknya hanya bingung, gitu aja kok repot. Lalu duduk dibawah pojokan padmasana.

Waduh…..!!! Suaranya mengulangi peristiwa itu. “Saya merasa rambut saya di jambak-jambak pak Agus”, lanjut ceritanya. “Siapa yang jambak? Tanya saya. “Sepertinya kaki kura-kura itu hidup dan menjambak rambut saya,” lanjutnya.

Lagian ngapain pak jaya duduk-duduk disitu, kan gak boleh pak Jaya? Jawab saya. “ Ya… mana saya tahu? Jawabnya sambil tersenyum. 

Hal aneh yang ia lihat di lain waktu, ia melihat di Padmasana ada pintu gerbang yang gemerlap yang sedang terbuka, semuanya serba emas yang gemerlap, di dalamnya ada banyak bangunan yang gemerlapan juga. Namun didalamnya pak Jaya tidak melihat siapa-siapa, hanya sepi dan tenang.

Oleh : Agus Widodo

Postingan terkait:

8 Tanggapan untuk "Kisah Nyata : Pak Jaya Seorang Muslim Penjaga Pura Angkasa Amerta Dharma Jati Bertemu Dewa Wisnu Dan Dewa Siwa."

  1. Tapi pak jaya gak jadi orang hindu kan?

    ReplyDelete
  2. Hindu tidak mempermasalahkan bagaimana jalan anda menyatukan diri dengan tuhan. Krn seprrti yang di tulis di weda, tuhan cuma 1 tp para cendekiawan menyebutnya dengan banyak nama
    Tp bukannya saya gak percaya, tp artikel gini2 bisa dibuat2, ada baiknya sertakan foto narasumbernya dan data2 yg jelas

    ReplyDelete
  3. foto yang digambar narasumbernya mana?

    ReplyDelete
  4. alahhh pretttttt hoaxxxxxxxxxxxx

    ReplyDelete